SEKILAS INFO
: - Selasa, 16-01-2018
  • 3 bulan yang lalu / Ayo Menonton Film G30S/PKI di Stasiun TV One 29 September 2017
  • 3 bulan yang lalu / Kepada seluruh Guru Mapel untuk mendaftarkan nama-nama siswa yang tidak boleh ikut UTS karena kehadiran ke kurikulum.
  • 3 bulan yang lalu / Kepada seluruh ASN/Guru untuk dapat mengikuti Upacara Hari Kesaktian Pancasila, 01 Oktober 2017 di Kantor Camat Pariaman Utara
Kebiasaan dan Suri Tauladan BUKAN FAKTOR UTAMA Pendidikan Karakter

Kebiasaan dan Suri Tauladan BUKAN FAKTOR UTAMA Pendidikan Karakter, pembahasan arsaskafri.com kali ini.  Sebelum panjang lebar, saya mau tanya apakah Karakter Bangsa sudah baik?.  Jawabannya tentu belum karena menurut Kemendikbud jauh pangang dari pada api, sebagai gambaran saja.

survei

Pendahuluan Pendidikan Karakter

Lalu kenapa semua ini bisa terjadi, why?, untuk menjawab semua itu karena saya selama 10 tahun berprofesi sebagai guru sering melakukan diskusi juga mengikuti pelatihan kebanyakan menjawab “emang alah jamannya kini seperti itu, dimana-mana juga seperti itu” ada juga yang menjawab “mungkin pengaruh linkungan” ada juga “mungkin pengaruh teknologi”, dll. Pernah juga saya tanya tentang KRISIS apa negeri ini?, hampir semuanya menjawab: 1. Krisis Moral, 2. Krisis Tauladan, 3. Krisis Pemimpin, 4. Krisis Ekonomi, dll. Ini yang PENTING saya tanya lagi bagaimana solusinya? Dan hal ini saya diskusi hampir disemua jenis guru mulai guru agama sampai guru produktif, bahkan Kepala Sekolah dan Mantan Kepala sekolah. Tapi apa yang didapatkan jawabannya hampir semuanya kurang memuaskan, bahkan banyak yang belum tahu bagaimana solusinya.

Panduan Budi Pekerti (dahulunya Pendidikan Karakter)

Untuk itu solusi yang ditawarkan oleh Kemendikbud dalam Panduan Budi Pekerti (Direktorat Jendral Pendidikan Dasar dan Menenggah) Seorang siswa tak mungkin bisa berbudi pekerti dalam waktu sekejap. Ini langkah panjang. Perlu pembiasaan. Maka dari itu, dalam Permendikbud No. 23 Tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti disebutkan alur pembudayaan agar seorang siswa berbudi pekerti. Alur itu adalah diajarkan, dibiasakan, dilatih konsisten, menjadi kebiasaan, menjadi karakter, dan menjadi budaya. Sebagai contoh dari kemendikbud tentang hal ini. Sebagai gambaran Alur Pembudayaan sebagai berikut.

alur-pembudayaan

Kajian Pendidikan Karakter

Menurut yang saya ikuti pelatihannya yaitu Implementasi Kurikulum 2013 revisi 2016 pada tahun 2016 bahwasanya pada intinya solusi yang ditawarkan adalah KEBIASAAN-KEBIASAAN dan SURI TAULADAN dengan melakukan itu menurut instrukturnya Indonesia akan memperoleh Karakter Bangsa. Terus imbul pertanyaan apakah iya seperti itu?.

Hal ini membuat saya penasaran sehingga saya melakukan penelusuran dengan cara diskusi kepada guru-guru dari berbagai sekolah tentang penerapan pendidikan karakter disekolah masing-masing dan strategi yang digunakan. Dan Alhasil, belum ada sekolah yang berhasil menerapkan pendidikan karakter, sebagai contoh siswa mau buang sampah kalau diperintah guru dan diawasi, siswa mau disiplin kalau ada guru, siswa tidak merokok kalau ada guru, dll. Ini bukti bahwa pendidikan karakter belum berhasil.

Terus bagaimana dengan KEBIASAAN-KEBIASAAN yang dicanangkan Kemendikbud untuk Panduan Budi Pekerti, yang dimulai diajarkan, dibiasakan, dilatih konsisten, menjadi kebiasaan, menjadi karakter, dan menjadi budaya. Apakah biasa berhasil?. Menurut arsaskafri.com, ini terlihat baru tapi sebenarnya sama saja yang sudah sudah dilakukan kebanyakan sekolah-sekolah di Indonesia. Kalaupun kita terapkan cara tersebut belum tentu berhasil memcetak KARAKTER BANGSA, KENAPA, WHY?.

Untuk menjawab itu kita kaji kembali tentang krisis yang ada di Indonesia. 1. Krisis Moral, 2. Krisis Tauladan, 3. Krisis Pemimpin, dan 4. Krisis Ekonomi, bukan krisis utama bangsa ini. Sebenarnya ada krisis utama yang PALING BERBAHAYA sedang dihadapi negeri ini yaitu  KRISIS KEYAKINAN ADANYA TUHAN. Dan hal ini saya ketemukan sewaktu menuntut ilmu S2 Universitas Putra Indonesia “YPTK” Padang. Pendapat H. Herman Nawas pendiri Universitas Putra Indonesia “YPTK” Padang, menurut beliau “Kenapa bangsa ini banyak korupsi, narkoba, sex bebas, kenakalan remaja, mabuk-mabukan, dll, KARENA TIDAK PERCAYA ADANYA TUHAN”. Kalau seseorang percaya adanya tuhan, dia tidak akan berbuat semua itu. Dengan krisis utama inilah akhirnya merambat ke krisis-krisis lain yang dihadapi bangsa ini.

Panduan Budi Pekerti belum melihatkan peranan pendidikan KEJERDASAN SPIRITUAL sebagai SOLUSI UTAMA dalam membentuk Karakter Bangsa. Sebagai contoh pertanyaan siswa

Siswa : buk, untuk apa buang sampah?

Guru : supaya bersih.

Siswa : untuk apa bersih?

Guru : ya kan kebersihan sebagian dari iman.

Siswa : untuk apa iman, buk?

Guru : buang aja lah sampah itu. Gak usah banyak tanya. Pokoknya sudah nampak bersih sudah!!.

CONTOH LAIN

Guru : Siswa-siswi ku, kalian harus disiplin. Karena baik untuk kalian semua.

Siswa : untuk apa pak?

Guru : ya, kalau kalian didunia kerja nanti akan dituntut disiplin, tepat waktu, dan bla bla.

Berdasarkan contoh di atas, walaupun diajarkan buang sampah, dibiasakan buang sampah, dilatih konsisten buang sampah, sampai menjadi budaya buang sampah. Hal ini tidak bisa menjamin siswa punya Karakter Buang Sampah pada Tempatnya. Karena alasan yang diberikan kenapa dia harus buang sampah pada tempatnya belum kena pada jiwanya atau SPIRITUAL nya.

Sebagai solusi Pendidikan Karakter menurut arsaskafri.com, pertama tamankan sedini mungkin iman keyakinan kepada Allah SWT sebagai faktor Utama, karena keyakinan terhadap tuhan sangat berpengaruh pada pola pikir dan tindakan seseorang. Solusi kedua jelaskan sesimple mungkin TUJUAN HIDUP MANUSIA di dunia ini. Dua hal ini merupakan pokok dari PENDIDIKAN KARAKTER.

Demikian pembahasan arsaskafri.com kali ini tentang kebiasaan dan suri tauladan bukan faktor utama pendidikan karakter. Semoga penjelasan panjang lebar di atas bisa menambah cakrawala berpikir kita semua. Semoga bermanfaat. Terakhir kalau ada kritik, saran, dan pertanyaan boleh tulis dikolom komentar di bawah. Terima kasih.

Silakan Bagikan:

TINGGALKAN KOMENTAR

*

Pengumuman Terbaru

Menonton Film G30S/PKI di Stasiun TV One 29 September 2017

Kartu Askes diganti dengan Kartu KIS (Kartu Indonesia Sehat)

Lokasi Sekolah